Majas hiperbola ialah gaya bahasa yang dengan sengaja melebih-lebihkan sesuatu guna menimbulkan kesan kuat, bukan untuk menipu. Bila Anda pernah mengucapkan “lapar ini, bisa makan sepullung nasi” atau “tunggumu selama abad”, sebenarnya Anda telah memakainya tanpa sadar.
Dalam pelajaran sastra, gaya ini jadi bahan ujian yang hampir selalu muncul, dan sering tertukar dengan litotes. Artikel ini membahas pengertian, ciri, contoh dari kalimat sehari-hari sampai lagu populer, perbedaan dengan majas sejenis, serta cara memakainya agar tulisan terasa hidup tanpa kelihatan lebay.
Apa Itu Majas Hiperbola?

Majas hiperbola adalah jenis gaya bahasa yang membesar-besarkan kenyataan. Tujuannya menegaskan perasaan atau kesan, bukan menyampaikan angka yang benar. Kata “hiperbola” sendiri berasal dari bahasa Yunani “hyperbole” yang berarti melebih-lebihkan. Dalam buku ajar sastra Indonesia seperti karya A.J. Waluyo, gaya ini masuk kelompok majas perbandingan karena bermain dengan skala.
Cara paling mudah mengenalinya: cek apakah pernyataan itu bisa diambil harfiah. Kalau tidak mungkin secara logika, kemungkinan besar itu gaya bahasa melebih-lebihkan. Perut yang “keroncongan” tidak benar-benar berbunyi musik. Itu hanya cara lucu menunjukkan rasa lapar.
Ciri-Ciri Hiperbola dalam Kalimat
Hiperbola adalah gaya bahasa yang melebih-lebihkan suatu hal dengan tujuan memperkuat kesan, perasaan, atau gambaran yang ingin disampaikan penulis atau pembicara.
Kata Bilangan atau Ukuran yang Tidak Mungkin
Ciri pertama tampak pada penggunaan kata bilangan atau ukuran yang secara logika tidak mungkin terjadi dalam kenyataan. Contohnya, frasa “seribu bahasa” menggambarkan kemampuan berbicara yang sangat banyak, dan “seabad” menggambarkan waktu yang terasa sangat lama, padahal keduanya tidak dapat diukur secara harfiah.
Perasaan yang Digambarkan Berlebihan
Ciri kedua terlihat ketika emosi atau keadaan batin dilukiskan melampaui batas wajar. Misalnya, kalimat “air mata jatuh seliter” menggambarkan kesedihan yang begitu dalam hingga seolah-olah tangis itu mengalir dalam jumlah yang sangat besar.
Makna Tetap Mudah Dipahami
Ciri ketiga adalah kalimat hiperbola tetap dapat dipahami maksudnya oleh pembaca atau pendengar, meskipun secara harfiah pernyataannya terdengar tidak masuk akal. Pembaca langsung menangkap bahwa yang dimaksud adalah intensitas perasaan atau besarnya suatu keadaan, bukan jumlah sebenarnya.
Konteks Penggunaan
Ciri keempat, gaya bahasa ini umumnya muncul dalam konteks ekspresif seperti puisi, cerita, lagu, atau percakapan sehari-hari. Sebaliknya, hiperbola jarang ditemukan dalam laporan resmi atau berita, karena bahasa jenis itu menuntut ketepatan dan kesesuaian dengan fakta.
Contoh Majas Hiperbola dalam Kehidupan Sehari-hari
Contoh-contoh berikut ilustratif, disusun untuk menunjukkan pola:
- “Sudah kukatakan sejuta kali, jangan lupa kunci pintu.”
- “Tangisnya membanjiri satu kampung.”
- “Lapar ini sampai bisa makan kerbau sekor.”
- “Kurir ini leletnya setengah abad.”
- “Kotak chatku penuh dunia, semua minta dibalas malam ini.”
Perhatikan polanya. Setiap kalimat punya fakta sederhana di baliknya: sering diperingatkan, menangis keras, sangat lapar, lama dikirim, chat menumpuk. Majasnya hanya memperbesar skala agar perasaan penulis sampai ke pembaca.
Skenario nyata di kelas: siswa diminta menandai majas di lirik lagu favorit. Hampir selalu mereka menemukan dua-tiga contoh dalam satu bait. Kebiasaan berlebihan ini memang alami dalam tutur sehari-hari orang Indonesia, dari “macet abad ini” di jalan sampai “mahalnya ke langit” di warung.
Contoh dalam Lirik Lagu dan Karya Sastra
Lirik lagu Indonesia kaya contoh gaya ini. Pola klasiknya tampak pada bait yang menyebut “menunggu seribu tahun” atau “cintaku setinggi langit”. Judul dan lirik lagu populer dekade 2000-an juga banyak memakai bilangan mustahil untuk menggambarkan kesetiaan atau kehilangan.
Dalam karya sastra, penyair sering memakai gambaran berlebihan untuk menegaskan emosi. Puisi Chairil Anwar, misalnya, dikenal memakai ekspresi kuat yang kalau diambil harfiah terasa mustahil. Untuk analisis tugas sekolah, kutip baitnya lalu jelaskan efeknya: apakah memperkuat kesepian, amarah, atau kekaguman.
Perbedaan Hiperbola dan Litotes yang Sering Tertukar
Keduanya sama-sama mengubah ukuran kenyataan, arahnya beda. Hiperbola membesar-besarkan, sedangkan litotes justru merendahkan atau memperkecil untuk kesantunan. Jika Anda mengatakan “mampirlah ke rumah yang tak layak ini” padahal rumahnya bagus, itu adalah litotes. Kalau bilang “rumahku istana ini, muat seribu tamu”, itu hiperbola.
|
Aspek |
Hiperbola |
Litotes |
|---|---|---|
|
Arah |
Membesar-besarkan |
Merendahkan |
|
Tujuan |
Menegaskan emosi atau kesan |
Kesantunan dan kerendahan hati |
|
Contoh |
“Tangisnya seliter” |
“Kediaman sederhana ini” |
|
Konteks lazim |
Puisi, lirik, cerita lucu |
Tutur santun, undangan |
Dalam ujian, kuncinya tanyakan: ukurannya dinaikkan atau diturunkan? Naik berarti hiperbola, turun berarti litotes.
Cara Menggunakan Majas Hiperbola dengan Tepat
Gaya ini ampuh, tapi gampang berubah jadi norak kalau dipakai sembarangan. Tiga prinsip praktis dari pengalaman menyunting tulisan siswa dan pemula:
- Satu hiperbola per gagasan. Dua atau tiga dalam satu paragraf membuat pembaca lelah. Pilih yang paling kuat, sisanya tulis biasa.
- Ikat dengan detail konkret. “Lapar sekali” lemah. “Lapar sampai terbayang nasi kotak belasan bungkus” lebih hidup karena ada gambaran spesifik.
- Sesuaikan konteks. Ini cocok dipakai dalam karya kreatif maupun obrolan santai. Hindari di laporan kerja, berita, atau email ke atasan.
Selain itu, dengarkan bunyinya saat dibaca keras. Gaya bahasa yang baik terasa natural di lidah. Kalau terasa dipaksakan, sederhanakan.
Tanya Jawab tentang Gaya Bahasa Hiperbola
Apa fungsi utama gaya bahasa ini?
Menegaskan perasaan atau kesan lewat gambaran berlebihan, agar pembaca merasakan intensitas yang dimaksud penulis, bukan menerima angka yang benar.
Apakah hiperbola hanya dipakai dalam karya sastra?
Tidak. Ucapan sehari-hari, iklan, dan konten media sosial memakainya luas. Yang perlu dijaga hanyalah konteks resmi seperti berita dan laporan.
Bagaimana cara membedakannya dari metafora?
Metafora memindahkan makna dengan perbandingan langsung (“waktu adalah pedang”), sedangkan hiperbola mengubah skala ukuran (“menunggu seribu tahun”). Kadang keduanya bisa muncul dalam satu kalimat.

